Tahap-tahap
Produksi Film & Sinematografi
A.
Pengertian Video
Video
adalah gabungan gambar-gambar diam yang dibaca berurutan dalam suatu waktu
tertentu dan dengan kecepatan tertentu yang dapat ditambahkan audio sebagai
pengiring dari gambar-gambar tersebut. Gambar-gambar yang digabung tersebut
dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate
B.
Jenis-jenis Video Film berdasarkan tujuan
pembuatannya:
Ø Cerita : Video yang bertujuan untuk memaparkan cerita.
Ø Dokumenter : Video yang bertujuan merekam sebuah
kejadian atau peristiwa dalam kehidupan.
Ø Berita : Video yang bertujuan memaparkan sebuah
berita.
Ø Pembelajaran : Video yang bertujuan untuk memberikan
materi pembelajaran agar mudah diserap dan dapat dimainkan ulang.
Ø Presentasi :
Video yang bertujuan untuk mengomunikasikan ide atau gagasan.
C.
Jenis
Jenis Video Berdasarkan Formatnya
Ø AVI
AVI atau Audio Video Interlaced
diperkenalkan pertama kali pada tahun 1992 oleh Microsoft. Format video ini
didukung oleh hampir semua alat pemutar. Ukuran filenya yang cenderung besar
membuat AVI kurang efisien untuk disimpan.
Ø MKV.
MKV atau Matroska Video Container
merupakan format video yang berstandar terbuka dan bebas. MKV memiliki banyak
kelebihan termasuk untuk membuat menu dan chapter pada DVD. Meskipun dianggap
sebagai format paling fleksibel saat ini, MKV belum didukung secara universal.
Ø MPEG 1.
Format jenis ini banyak digunakan dalam
industri video. Kualitas gambar yang disimpannya setara dengan VHS dengan audio
setara CD.
Ø MP4.
MP4 merupakan versi pembaruan dari MPEG.
Format ini sering digunakan bersamaan dengan standar kompresi video H.263 /
H.264 / H.265 dan AAC untuk audio. H.264 mempunyai nama resmi MPEG-4 Part 10
atau disebut juga AVC (Advance Video Coding), H.265 mempunyai nama resmi MPEG-H
Part-2 atau disebut juga HEVC (High Eficiency Video Coding).
Ø MOV.
MOV banyak digunakan untuk player Quick
Time. Untuk pengiriman file video melalui internet, MOV adalah format yang
paling sering dipakai.
Ø 3GP.
3GP atau 3rd Generation Partnership
Project adalah format video yang paling banyak digunakan untuk keperluan multimedia.
Ukuran file-nya lebih kecil dan kualitasnya lebih rendah dari MP4.
D.
TAHAPAN PRODUKSI FILM :
1. Pra Produksi
Tiga tahap atau langkah
utama, yaitu:
a.
Pencarian
dan Penemuan Ide
Tahap pra produksi dimulai dengan
pencarian ide-ide kreatif dalam rangka menemukaan tema atau isu yang menarik
dan memiliki nilai penting bagi kehidupan. Dalam aktivitasnya, dalam tahap ini
lazim menyertakan aktivitas riset dan diskusi, dalam rangka memilih,
mengembangkan dan memantapkan ide. Dari pemantapan ide, penulis naskah
melanjutkannya ke dalam naskah atau scrip yang siap untuk dijadikan panduan
dalam produksi.
b.
Perencanaan
Produksi
§ Tahap
ini meliputi penetapan-penetapan: jangka waktu kerja (time schedule), kesiapan
naskah, pilihan artis, crew, lokasi shooting, alokasi anggaran, jenis dan
jumlah peralatan, property serta wardrop atau kostum artis.
§ Dalam
kaitannya dengan iklim (kondisi alam), kadang estimasi waktu menjadi meleset.
Ini bisa berakibat macam-macam, termasuk akibat pada waktu dan anggaran. Oleh
karenanya perencanaan perlu disusun secermat mungkin.
c.
Persiapan
Produksi
Tahap ini meliputi aktivitas-aktivitas
yang dilakukan dalam rangka membereskan beberapa hal seperti perijinan,
kesiapan artis (biasanya dengan latihan atau reading), memeriksa kesehatan crew
dan artis, pembuatan setting, pemeriksaan alat, property dan wardrop. Itu semua
dicermati dengan mengacu pula pada time schedule yang telah dibuat.
2.
Produksi
Dalam tahap produksi, sutradara bersama
crew dan artis berupaya mewujudkan perencanaan, termasuk di dalamnya adalah
naskah yang telah disempurnakan, menjadi gambar dan suara yang siap untuk
disusun hingga mampu bercerita.
Sutradara, dalam pelaksanaan produksi,
dibantu oleh asisten sutradara menentukan shoot yang akan diambil dalam suatu
adegan (scene). Biasanya, sutradara mempersiapkan shoot list dari tiap adegan.
Sering terjadi dalam produksi, satu kalimat dalam dialog, oleh sutradara
(dibantu asistennya) dipecah ke dalam 3 atau 4 shoot, untuk memperkaya gambar.
Ø Dalam
tahap produksi, selain kameraman, lightingman juga menempati posisi yang amat
penting, karena kualitas gambar turut ditentukan oleh kecukupan cahaya. Kondisi
alam (perubahaan cahaya) sering membuat kerja lighting menjadi lebih rumit. Di
samping lighting, peran soundman juga amat penting dalam tahap produksi, karena
sebuah pengambilan gambar yang berbarengan dengan pengambilan suara bisa
membuahkan hasil yang tak layak pakai (termasuk hasil gambarnya) gara-gara mutu
suaranya tak layak pakai.
Ø Dalam
produksi di lokasi shooting, sutradara adalah pemimpinnya. Sutradara dituntut
untuk bisa mencermati kondisi lingkungan,
3.
Pasca
Produksi
Dalam tahap pasca produksi, dapat ditetapkan tiga tahap atau langkah utama, yakni:
a.
Editing
Off Line
Setelah shooting selesai, scrip writer
membuat logging, yaitu mencatat kembali semua hasil shooting berdasarkan
catatan shooting dan gambar. Di dalam logging time code (nomor kode yang dibuat
dan muncul dalam gambar) dan hasil pengambilan setiap shot, dicatat. Berdasarkan
catatan tersebut, dibuatlah editing kasar yang disebut editing off line.
b.
Editing
On Line
Berdasarkan editing scrip, editor
melakukan editing secara cermat, adegan-adegan dan shoot-shoot yang ada dalam
tiap adegan, serta membuat transisi gambar yang menarik, sesuai tuntutan scrip.
Dalam editing on line, materi sound juga dimasukkan serta ditata sesuai posisi
yang dikehendaki oleh naskah. Setelah editing on line selesai dan dianggap
cukup, barulah dilanjutkan ke tahap mixing.
c.
Mixing
Ø Narasi
yang sudah direkam (jika pakai narasi) dan ilustrasi musik yang sudah direkam
pula, dimasukkan ke data editing untuk di-mix bersama elemen-elemen lain yang
diperlukan. Keseimbangan antara sound effect, suara asli, ilustrasi musik, dan
narasi ditata sedemikian rupa sehingga tidak saling mengganggu dan terdengar
jelas. Setelah mixing suara serta gambar selesai, termasuk grafisnya, maka
tahapan-tahapan penting dalam post production bisa dianggap selesai, dan tahap berikutnya
bisa dilakukan preview.
Ø Dalam
preview, tak ada lagi yang diperbaiki, karena dianggap telah selesai.
D.
Proyek
Pengembangan Film
Setiap produk film tidak akan menjadi bagus apabila tidak
disertai dengan alur cerita yang jelas.
Alur
cerita dapat disajikan dalam beberapa cara :
o
Sinopsis /Narasi
o
Treatment
o
Skrip Skenario
o
Skrip Dialog
o
Storyboard
A.
Pengertian
Sinematografi (dari bahasa Yunani: 'kinema - κίνημα'
"gerakan" dan graphein - γράφειν "merekam") Sinematografi
sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik
menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi
rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).
Sinematografi memiliki objek yang sama dengan
fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya
sama maka peralatannyapun mirip. Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap
gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar.
B.
Sudut
kamera
Camera angle atau sudut penempatan kamera juga
memegang peranan yang sangat penting pada sinematografi.
Penempatan
sudut kamera ini sangat dipengaruhi beberapa faktor di antaranya analisis pada
skenario, penggunaan jenis lensa dan sebagainya.
Penempatan sudut kamera juga
berpengaruh pada kondisi psikologis penonton, contohnya adalah jika kita
menggunakan High Angle –
kamera lebih tinggi dari garis axis kamera, maka penonton akan diposisikan
lebih tinggi dari subjek, hal ini yang membuat penonton merasa subjek lebih
kecil baik secara fisik atau lebih rendah derajatnya dalam tatanan sosial. Pada
film hal ini sering digunakan untuk memperlihatkan pengemis, rakyat jelata dsb.
Sedangkan penggunaan Low Angle –
Kamera lebih rendah dari garis aksis kamera, maka penonton diposisikan lebih
rendah dari subjek, hal ini yang membuat penonton merasa subjek lebih tinggi
secara fisik atau lebih tinggi derajatnya dalam tatanan sosial. Hal seperti ini
banyak kita temukan di film untuk memperlihatkan raja, hakim, dan sebagainya.
Kemudian ada juga yang disebut dengan Eye
level – kamera sama tingginya dengan level subjek atau jika subjek
berdiri/duduk kamera berada pada aksis yang sama dengan posisi subjek. Bisa
dikatakan sebagai pandangan subjek ke subjek lain dalam sebuah potongan tetapi
bukan Point of View.
Pada
dasarnya kamera angle dibagi dalam tiga jenis yaitu:
1.
Objektif
camera angle
Angle objektif maksudnya adalah kamera
menjadi point of view cerita, artinya penonton melihat semua elemen visual yang
sutradara berikan dalam filmnya. Contoh yang paling gampang adalah dalam film
dokumenter di mana orang-orang tidak melihat ke arah lensa kamera atau dalam
candid shot/kamera tersembunyi.
2.
Subjektif
camera angle
Angle subjektif maksudnya adalah seperti
personal view point artinya penonton berpartisipasi dalam sebuah shot seperti
pengalaman sendiri. Contohnya adalah shot dari udara atau aerial shot yang
memperlihatkan pemandangan kota. Atau birds point of view.
Jika seorang aktor melihat langsung ke
arah lensa/penonton maka penonton di sini juga berpartisipasi dalam sebuah shot
tersebut, maka bisa juga disebut angle subjektif.
3.
Point
of view
Point of view adalah pandangan subjektif
dari subjek dalam scene. Maksudnya jika kita melihat seorang aktor melihat ke
arah langit kemudian shot selanjutnya adalah arak-arakan mega di langit maka
shot ke dua tersebut adalah point of view subjek tersebut.
C.
Jenis
rekaman
§ Shot sering
didefinisikan sebagai sebuah aktivitas perekaman dimulai dari menekan tombol
rekam pada kamera hingga diakhiri dengan stop. Sedangkan
§ Scene
adalah sering diartikan sebagai tempat atau setting di mana sebuah cerita akan
dimainkan, hal ini tentu saja terpengaruh dari dunia teater atau panggung.
Sebuah Scene bisa terdiri dari beberapa shot atau bisa saja satu shot panjang
yang disebut sebagai Sequence shot.
§ Sequence adalah
rangkaian dari beberapa scene dan shot dalam satu kesatuan yang utuh.
Tipe-tipe dari shot dibagi dalam
beberapa bagian, yaitu :
Type
of shot:
1.
Long
shot
Teknik ini menggunakan area yang memperlihatkan seluruh tubuh subjek tanpa terpotong frame.
2.
Medium
close up
Medium close up biasanya memperlihatkan wajah subjek mulai dari dada sampai kepala.
3.
Medium
shot
Teknik ini lebih sempit lagi dari medium long shot. Pengambilan gambar dimulai dari sekitar pinggang sampai kepala.
4.
Knee
shot
Pengambilan gambar objek dari kepala hingga lutut, ukuran gambar yang agak nanggung ini bertujuan untuk menampilkan apa yang sedang dilakukan oleh objek.
5.
Full
shot
Teknik ini memperlihatkan seluruh tubuh obyek, dari kepala hingga kaki.
6.
Extreme
close up
Teknik ini biasanya hanya fokus pada satu bagian tertentu, misalnya mata, hidung, atau bibir.
7.
Close
up
Teknik ini biasanya diambil mulai bagian bawah bahu sampai kepala.
8.
Medium
Long Shot
Teknik ini
hampir mirip dengan long shot tetapi batas pengambilan gambar biasanya mulai
lutut hingga kepala.
Download PDF disini!
























